Pamit paling terbaik
Terkadang membingunkan,aku yang kamu hiraukan begitu saja tapi justru aku yang menyalahkan diri sendiri untuk kesalahan yang tak pernah ku ketahui sebabnya.
Ada beberapa orang yang senang berdebat dengan perasaanya sendiri demi menemukan jawaban atas banyaknya tanya yang tak kunjung menuai jawab.
Apakah aku membuatmu kecewa?
Apa aku membuatmu marah?
Ataukah aku membuatmu tak merasa nyaman?
Setidaknya katakan padaku apa kesalahanku, agar aku tak melulu menyalahkan dan menerka-nerka kesalahan yang fikiranku buat sendiri.
Jika tak tahu bagaimana cara berjuang dan bertahan, setidaknya kamu tahu bagaimana cara berpamitan tanpa memberikan PR sulit bagi dia yang tak kau anggap keberadaanya.
Tapi sudahlah...Nyatanya nasi telah menjadi bubur bahkan menuju basi, alasan mengapa seharusnya aku harus melupakan sudah pebih dari cukup dari sikapmu yang seolah begitu asing.
Lucuyah....Kamu yang pernah begitu kerasnya membawaku keduniamu kini dengan begitu tegasnya menempati posisinpaling sunyi di sudut hidupku.
Bukankah kamu mengenalku dengan baik? Kamu pasti tahu bagi sosok seperti diriku berjuang adalah perkara yang ku jadikan prinsip tapi jika tak di hargai maka pergi dan menghilang adalah suatu keharusan.
Aku tak marah denganmu, cuma saja aku sedikit kecewa dengan caramu yang sungguh tak dewasa, setidaknya dari sini kualitas dirimu telah nampak dengan jelas.
Jika berbicara kualitas, kamu sudah bisa di katakan sempurna untuk sekadar menjadi teman perjalanan tapi untuk menjadi partner hidup mungkin seseorang harus merenung sekali lagi.
Aku tak secerdas itu dalam menilaimu, tapi bagiku,
Semanis apapun caramu berpamitan kehilangan tetaplah menyakitkan.
Sampai bertemu di titik terbaik menurut takdir, entah itu sebagai sepasang orang asing yang sebatas pernah ataukah sebagai seseorang yang menjadi pelengkap.
semuanya berjalan sebagaimana takdir mengaturnya, kita berjalan atas pilihan dan kita akan sampai pada titik akhir yang ku sebut bahagia.
sinjai, 07 Muharram 1443 H
Komentar
Posting Komentar